Kamis, 13 Oktober 2016

NASKAH DRAMA ASAL USUL PANRANG LUHU ZULASTRI AL AZHARI SISWA SMAN 9 BULUKUMBA

NASKAH DRAMA BHS. INDONESIA
DI
S
U
S
U
N
OLEH
ZULASTRI AL AZHARI
NURAZIMA
A.RATNA DEWI SARI
DIAN INAYA
MIHRAWATI
ASWIDA NINGSIH
A.MUTFIKA TAUFIK
NURPADILLA
NUNU ASTUTI
A.BINTANG LANTARA
AMAL TASBIH
A.ALDI TRIAS PRATAMA
FAQIH SYAFEI

naskah di garap dari legenda yang ada


ASAL USUL PANRANG LUHU (CERITA LEGENDA MASYARAKAT BULUKUMBA) 
Adegan 1
Di sebuah kerajaan hiduplah seorang ratu yang bernama sengkawana dan saudara-saudaranya. Ia merupakan ratu yang cantik dan rupawan namun sayangnya ia bernasib malang karena saat ia mengandung suaminya meninggal dunia akibat peperangan dengan kerajaan lain. Hingga pada akhirnya putranya lahir. semua kasih sayang sang ratu tercurahkan kepada putranya Tanpa pertimbangan baik dan buruk, segala keinginan pangeran kecil ini diturutinya.
Pangeran linggawana : bunda ratu bolehkah aku meminta sekantung emas karena aku ingin membeli sesuatu
Ratu sengkawana      : untuk apa wahai anakku bukankah hampir setiap harinya aku memberikanmu?
Putri antira                 : iya, bukankah ibumu selalu memberikanmu emas wahai keponakanku?
Putri tirani                  : hey berikanlah wahai saudaraku dia anakmu satu-satunya tidak apa-apalah jika engkau memberikannya sekantung emas
Putri riana                  : iya lagipula saya yakin kalau anakmu ini menggunakannya dengan baik
Putri antira                 : memangnya kamu ingin membeli apa wahai keponakanku?
Pangeran linggawana : aku ingin memberikannya kepada rakyat jelata wahai bunda ratu dan para bibiku, aku merasa kasihan kepada mereka
Putri antira                 : benar-benar anakmu ini sungguh mirip sekali dengan ayahnya
Putri riana                  : iya tidak kusangka anak yang engkau didik ini betul-betul mewarisi kebaikan dari suamimu wahai saudaraku
Ratu sengkawana      : sungguh dermawan dirimu wahai anakku engkau mengingatkanku pada ayahmu ambillah emas ini dan lakukanlah niat baikmu itu
Pangeran linggawana           : terimah kasih bunda dan para bibiku...
Adegan 2
Hingga pada akhirnya Kasih sayang berlebihan itu menyebabkan anak semata wayangnya menjadi nakal. Uang yang di berikan ibunya digunakannya untuk berhura-hura, bahkan untuk menghina rakyat rakyat di bawahnya.
Pangeran linggawana : hahaha aku punya sekantung emas, berarti aku boleh berbuat sesuka hatiku.
Sengkani                     : wahai pangeran janganlah engkau terlalu berhura-hura dan terlalu sombong karena emas yang kamu punya itu pemberian dari sang ratu.
Indayana                    : iya betul sekali berhematlah, kami saja kalu di beri sekantung emas sebanyak itu mungkin bisa tahan sampai 2 bulan
Pangeran linggawana : hey kalian anak dayang diamlah kalian tidak usah banyak cerita tidak usahlah engkau menceramahiku engkau tak punya hak untuk mengaturku... pergi sana ( sambil mendorong sengkani)
Indayana                    : heyy jangan terlalu kasar sama perempuan kamu ini kenapa? Kamu terlalu sombong
Sengkani                     : kenapa dirimu berubah menjadi nakal wahai pangeran engkau menjadi kasar beraninya engkau mendorongku? Akan ku adukan perbuatanmu pada sang ratu (sambil menangis)
Indayana                    : sudahlah sengkani tak ada gunanya engkau mengadukannya pada ratu. ratu kan sudah terlalu menyayanginya mana mungkin mau mendengarkan omongan kita
Pangeran linggawana : silahkan adukan aku!!! Bunda ratu sangat menyayangiku dia hanya akan membelaku daripada dirimu... dasar manusia hina....
Tanpa di sadari oleh sang pangeran, perbuatan yang dilakukannya hari itu di saksikan oleh sang ratu dan para bibinya. sang ratu amat murka dan tak mampu mengontrol emosi.
Ratu sengkawana      : wahai anakku beraninya engkau melakukan itu di hadapanku sendiri dan di saksikan oleh banyak orang
Putri tirani                  : aku tidak menyangka keponakan yang ku banggakan ternyata jauh dari apa yang ku harapkan
Pangeran linggawana : maaf bunda ratu, maaf bibi aku hanya menggunakan hakku sebagai pangeran
Putri antira                 : tapi sifat pangeran tidaklah seperti ini bahkan kau sampai tega mendorong dan membentak seorang wanita padahal ayahmu tak berani seperti itu
Ratu sengkawana      : pangeran yang ku didik tidak seperti ini siapa yang mendidikmu hingga nakal seperti ini.. wahai indayana cepat ku perintahkan dirimu untuk mengambilkanku gayung tempurung untukku karena aku ingin memberikannya pelajaran yang sepantasnya
Putri riani                   : sudahlah wahai saudaraku tenangkanlah dirimu dia masih kecil
Ratu sengkawana      : aku sudah tidak bisa menurutinya terus menerus kalau begini cepatlah indayana lakukan apa yang ku perintahkan
Indayana                    : baiklah baginda ratu akan segera ku ambilkan
Ratu sengkawana      : kalian berdua putri tirani dan putri antira tarik dia ke hadapanku sedangkan kamu putri riani bawa sengkani ke dalam istana
Putri riani                   : baiklah saudaraku
Putri tirani                  : tapi saudaraku bukankah itu terlalu kasar?
Putri antira                 : cepatlah!!!kau tak ingin terkena amarah dari saudaramu kan? (sambil melototi putri tirani)
Pangeran linggawana : ada apa ini bunda ratu apakah engkau ingin berlaku kasar kepadaku?
Tak berapa lama indayana datang dengan  membawa gayung tempurung yang di perintahkan oleh sang ratu
Indayana                    : ini gayungnya baginda ratu
Tanpa berpikir panjang Diambilnya gayung tempurung lalu dipukulkan pada kepala puteranya. Hingga Darah mengalir dari bekas pukulan itu.
Pangeran linggawana : wahai bunda ratu mengapa engkau tega memukulku aku sangat kecewa kepadamu kasih sayangmu kini telah hilang. ( sambil memegang kepalanya yang bercucuran darah)
sang anak kecewa karena tidak menyangka jika ibu yang selalu memanjakannya tega memukulnya sekeras itu. Sambil meraba lukanya, ia melarikan diri ke hutan.
Adegan 3
Sang ratu menyesal dengan perbuatannya itu. Sebagai pemimpin kerajaan sebagaimana sediakala, ia  memerintahkan prajuritnya untuk mencari pangeran. Sayangnya, segala upaya yang dilakukan hasilnya nihil. Keberadaan anaknya tidak diketahui siapapun. Maka anak itu dianggap hilang atau kemungkinan besar telah meninggal dunia.
Prajurit                       : maaf baginda ratu saya tidak bisa menemukan pangeran sepertinya dia telah tiada.
Putri tirani                  : ngomong apa kamu ini wahai prajurit?
Putri antira                 : iya jangan dulu kau berkata begitu kalau belum tau kebenarannya
Prajurit                       : betul wahai baginda saya sudah berusaha semaksimal mungkin
Ratu sengkawana      : tidak mungkin aku terlalu kasar kepadanya. Lebih baik aku mati kalau begini
Putri riani                   : wahai saudaraku sabarlah kami juga ikut bersedih bagaimanapun dia adalah keponakan kami dan kami sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri(sambil merangkul ratu sengkawana yang tengah bersedih)
Adegan 4
Duka cita melanda anak negeri itu selama beberapa waktu, terutama ibundanya. Namun putaran waktu demi waktu mengikisnya hingga menjadi suatu kenangan buruk belaka. Demikian pula halnya dengan sang ratu, iapun perlahan dapat memulihkan jiwanya, walaupun tak sepenuhnya. Anehnya, baginda ratu yang molek itu tetaplah cantik dan awet muda. Rupanya waktu telah bertekuk lutut atas ketegarannya menghadapi kesusahan hidup yang susul menyusul menerpanya.

Suatu hari, seorang pemuda yang rupawan dan tidak diketahui dari mana asalnya, bahkan namanyapun tidak diketahui, berkunjung ke negeri ini. Melihat Ratu Sangkawana, pemuda ini terpikat begitupula sang ratu.
Pemuda(pangeran linggawana) : wahai ratu engkau begitu cantik dan rupawan siapakah namamu wahai ratu?
Ratu sengkawana      : namaku adalah ratu sengkawana. Dari manakah dirimu berasal dan siapakah namamu wahai pemuda?
Pemuda(pangeran linggawana) : aku lupa siapa namaku dan aku berasal dari desa seberang tapi orang sana sering memanggilku pemuda temuan
Ratu sengkawana      : bagaimana kalau aku memberimu nama kalingga sepertinya itu cocok untukmu
Pemuda(pangeran linggawana) : baiklah nama yang bagus ooo iya ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu mungkin aku terlalu lancang tapi ini yang kurasakan sejak pertama bertemu denganmu apakah engkau ingin menjadi istriku? Maaf baginda ratu kalau aku lancang
Ratu sengkawana      : dengan perasaan kaget iapun berkata “aku juga sepertinya punya rasa yang sama mungkin inilah yang dikatakan oleh banyak orang tentang cinta pada pandangan pertama jadi aku bersedia menjadi istrimu”.
Adegan 5
Keduanya akhirnya menikah dan dipersaksikan oleh banyak orang dengan dihantar do’a dan puja para penduduk negeri.
putri Payung Luwu   : semoga pernikahan kalian langgeng kalian cocok sekali kalingga mirip sekali dengan mendiang suamimu rasanya kakandaku kembali hadir di kerajaan ini.
Ratu mangkalipa       : iya aku seperti merasakan kehadiran keponakanku yang tercinta di rumah ini
Ratu sengkawana      : terima kasih adinda, terima kasih bibi kalian  terlalu memuji
putri Payung Luwu: sama-sama kudoakan semoga kalian cepat mendapatkan momongan yang bisa menggantikan sosok pangeran linggawana yang telah tiada
ratu mangkalipa        : iya yang bisa mewarisi segala harta kerajaan ini eh maksudku yang bisa menjadi pemimpin di kerajaan ini
putri riani                   : maksud anda?
Ratu mangkalipa       : tidak ada apa-apa saya pulang dulu ya selamat atas kebahagiaannya
Putri antira                 : terimah kasih wahai ratu mangkalipa seringlah berkunjung
Putri tirani                  : iya terima kasih juga putri payung luwu atas kehadirannya
Putri payung luwu : sama-sama
Adegan 6
Tidak lama setelah pernikahannya, saat sang suami muda sedang berleha-leha menghabiskan waktunya bersama sang ratu. Ia tertidur dengan kepala bersandarkan pada isterinya, kemudian rambutnya di belai. Namun belum lagi angannya beranjak ke dunia mimpi, tiba-tiba ia terbangun. Setetes air mengalir lembut di tangannya. Kemudian alangkah terkejutnya, ketika mengetahui jika tetesan air yang menimpanya itu adalah air mata isterinya yang jatuh berderai. Isterinya yang cantik itu menangis dengan amat pilunya.
Iapun bertanya,
Pemuda(pangeran linggawana) : ada apa permaisuriku mengapa engkau menangis? Padahal kita baru saja melangsungkan pernikahan bukankah harusnya engkau bahagia?
Ratu sengkawana                  : aku hanya teringat dengan putraku luka di kepalamu persis sama seperti luka yang ada di kepalanya.
Bagai disambar kilatan petir, ingatan lelaki itu kembali seketika itu. Dari suatu bayangan samar yang mendekatinya, hingga menjadi wujud utuh yang jelas perihal sosok wanita yang kini telah dihadapannya.
Gemparlah seantero negeri Luwu perihal pernikahan tabu yang tidak disengaja. kabar itu sampai pula dihadapan Ratu mangkalipa bibi dari mendiang suami ratu sengkawana .
Rakyat                                   : maaf ratu saya datang kemari ingin memberitahukanmu perihal tentang ratu sengkawana dengan pangeran linggawani
Ratu mangkalipa       : tentang apa?  Apa yang terjadi?
Rakyat                        : pangeran linggawani telah di temukan dan ia ternyata adalah tuan kalingga suami baru dari ratu sengkawana
Putri payung luwu    : apa? Pantas dia mirip sekali dengan kakandaku (dengan wajah kaget)
Rakyat                        : dia telah melakukan pernikahan terlarang wahai baginda ratu melanggar adat kita.
Ratu mangkalipa       : Ripaggenoi wennang cella’ (dikalungkan padanya benang merah). Wahai panglima kerajaan kuperintahkan engkau untuk membunuh ratu sengkawana dan pangeran linggawana karena meraka telah melanggar hukum  adat.
Panglima                    : baiklah baginda ratu
Putri payung luwu    : jangan bibi bagaimanapun mereka adalah kerabat dekat kita
Ratu mangkalipa       : tapi mereka tetap melanggar hukum adat nagaimanapun mereka harus mati, cepatlah wahai panglima kerjakan tugasmu
Panglima                    : siap baginda akan ku laksanakan
Maka jelaslah bahwa baginda ratu mangkalipa menjatuhkan hukuman  mati pada kedua ibu dan anak itu. Para panglima bergegas memerintahkan para pasukannya untuk menangkap suami isteri terlarang itu. Akhirnya Keduanya menyingkir sejauh-jauhnya dari wilayah Tana Luwu. Mereka melakukan pelarian itu dengan menempuh perjalanan jauh nan sulit kearah selatan. Panglima tidak melepaskan begitu saja. Mereka melacak jejak keduanya, seraya melakukan pengejaran. Sesuai titah Baginda ratu mangkalipa.
Adegan 7
Hingga pada suatu hari, perjalanan menyusuri pinggir laut teluk Bone, kedua buronan itu tiba di suatu daerah perbukitan yang berada dipinggir laut. Pada suatu puncak bukit mereka melayangkan pandangannya jauh kearah selatan melewati garis horizon permukaan laut, mencari keberadaan Pulau Selayar, yang akan menjadi tujuan akhir pelariannya. Maka sejak itulah, kawasan itu dinamai Bonto Tiro.
Ratu sengkawana      : wahai anakku di sana adalah pulau selayar, pelarian kita akan berakhir di sana dan kita akan bebas dari panglima suruhan dari nenekmu ratu mangkalipa.
Pangeran linggawani : iya bunda ratu semoga pelarian kita ini tidak di ketahui oleh ratu mangkalipa
Adegan 8
Setelah menemukan arah menuju ke penyeberangan menuju Pulau Selayar, mereka meneruskan perjalanannya kearah selatan, menuju titik akhir perbatasan perairan teluk Bone.
Tempat pertemuan itu terletak pada sebuah tanjung yang dikenal Tanjung Bira. Pada tebing ujung paling timur Bulukumba itulah akhirnya keduanya melepaskan lelah dan penat selama beberapa waktu sembari mencari perahu untuk menyeberang.

pangeran linggawani            : bunda ratu sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu karena sudah beberapa hari kita mencari tumpangan tapi belum dapat juga.
Ratu sengkawana      : iya anakku sepertinya tempat ini aman dari panglima nenekmu
Tak lama kemudian selama beberapa saat ternyata panglima ratu mangkalipa menemukan persembunyian ibu dan anak itu.
Panglima                    : hey kalian berdua ternyata persembunyian kalian ada di sini kalian tidak perlu lari lagi karena kalian berdua sudah tidak bisa lari lagi.
Ratu sengkawana      : sebelum kamu membunuh kami, maka kami akan terlebih dahulu melompat dari bukit ini.
Maka dengan perasaan putus asa, ibu dan anak itu menerjunkan diri pada jurang tebing yang terjal. Pusara pertemuan antar tiga perairan yakni Teluk Bone, Laut Flores dan Selat Makassar yang terkenal ganas itu, menunggu dengan suara gemuruhnya.
Panglima                    : hahaha ini adalah kabar gembira untuk ratu mangkalipa mereka sudah mati akan ku sampaikan berita ini padanya.
Panglima kerajaan Luwu mengagap keduanya telah tewas.

Panglima melakukan perjalanan kembali ke Tana Luwu, dan melaporkan perihal pelaksanaan tugasnya kepada Sang Junjungan. Namun mereka tidak tahu jika sesungguhnya kuasa menyelamatkan keduanya dari kebuasan pusaran yang menelannya. Sejak selamat dari maut itulah, karakter sang ratu yang malang itu berubah. Ia yang lembut kini menyimpan dendam yang teramat dalam pada segenap orang-orang Luwu, tanpa kecuali. Ia bersama puteranya menetap pada ujung tebing itu. Dengan kesaktiannya, ia dapat mengendalikan cuaca sekitarnya serta merubah susunan gugusan karang pada celah perairan itu. Ia juga bisa mendatangkan pusaran maut setiap saat yang dikehendakinya. Target satu-satunya adalah segenap orang Luwu yang melewati perairan itu.
Pangeran linggawani            : wahai bunda ratu apakah dirimu tidak apa-apa?
Ratu sengkawana      : iya putraku aku tidak apa –apa masih untung kita selamat
Pangeran linggawani : mereka sungguh jahat
Ratu sengkawana      : tenanglah anakku perasaan dendam ini akan membinasakan orang-orang itu. Pokoknya mulai dari sekarang siapapun orang keturunan dari luwu akan mati tanpa kecuali jika melewati perkampungan ini sampaikan semua ini pada penduduk daerah ini melalui kesaktian yang kita miliki kita kan menjadi penguasa.
Maka masyarakat Bira setiap kali menemukan mayat orang luwu langsung menguburkannya dengan baik di pantai itu juga, hingga dikenal sebagai Panrang Luhu.

Sejak saat itu, celah tanjung itu menjadi kawasan angker. Maka keberadaanya di kawasan itu menjadikannya dikenal oleh orang-orang Bira dengan sebutan Karaeng Loheta, sesuatu yang sesungguhnya berasal dari kata Karaeng Luhuta (Pertuanan Luwu kita).
TAMAT